Siang ini begitu panas. Seperti biasa aku menunggu jemputan massal, alias bis. Siang-siang seperti ini waktunya anak-anak sekolah seperti aku pulang. Lama aku menunggu. Peluh menetes dari pori-pori wajahku. Uhh...Bandung tak sesejuk dulu bisikku dalam hati. Tak lama yang kunanti akhirnya datang juga. Penuh sesak. Tapi tak apalah. Yang penting aku bisa cepat sampai rumah. Dan ya, hanya 20 menit perjalanan yang kulalui dari halte bis ke rumah. Langkah lemasku disertai matahari yang begitu menyengat. Ahh..terlalu dramatis. “Assalamualaikum!” sambil kubuka pintu. Tak ada yang menjawab.
Hmm...ibu pasti belum pulang. Ya, sebagai wanita karir dan memilikki butik di sebuah mall di Bandung ibu memang sering pulang larut. Apalagi butiknya memang sedang laris-larisnya. Ayah apalagi. Pasti pulangnya malam. Bekerja disebuah perusahaan besar di Bandung dan kadang sering pergi keluar kota. Kakakku siang-siang seperti ini pasti masih di kampusnya. Sebagai mahasiswa semester 5 jurusan Sastra Inggris disebuah universitas swasta di Bandung, kakakku tak pernah pulang kerumah sebelum jam 4 sore. Pasti selalu lebih dari jam 4. Emhh...apa mentang-mentang mahasiswa jadi seenaknya pulang sore? Selalu itu pertanyaanku apabila kakakku pulang terlampau sore, bahkan pulang malam. Ahh...tak adil. Aku selalu disuruh pulang sekolah sebelum jam 3 sore. Tapi ya sudahlah, begitu kalau kata salah satu solois Indonesia.
Aku langsung menuju kamarku dilantai dua. Kuhempaskan tubuhku yang lelah diatas kasur empuk yang selalu setia menopangku saat aku lelah sehabis pulang sekolah atau pulang latihan. Ya, selain sekolah aku juga rutin mengikuti latihan sepakbola di sekolahku. Aku memang bercita-cita menjadi seorang pemain sepakbola nasional. Untuk menggapai cita-citaku salah satunya aku masuk ekstrakulikuler sepakbola. Salah satu pemain idolaku di Timnas adalah Bambang Pamungkas. Poster BP banyak terpampang dikamarku. Ibu memang selalu protes apabila aku menempel poster didinding kamar, tapi karena kecintaanku pada sepakbola dan kekagumanku pada sosok Bambang Pamungkas aku selalu menganggap protes ibu sebagai angin lalu.
Ketukan pintu kamarku mengagetkanku saat aku setengah terlelap. Kubuka pintu kamarku, ternyata Bi Asih, asisten rumah tangga yang diberi tugas oleh ibu untuk masak, mencuci, dan membereskan rumah.
“Mau makan sekarang?” tanya Bi Asih padaku.
“Entar aja, Bi. Aku ngantuk” jawabku
“Oh, iya. Kalau mau makan panggil bibi aja.” jelas Bi Asih. Aku menganggukan kepalaku tanda mengiyakan apa yang dikatakan Bi Asih.
Kembali aku membaringkan tubuhku. Dan kubiarkan mataku terlelap dalam kelelahan.
# # #
Siang ini ada jadwal latihan sepakbola. Akupun bergegas menuju lapangan tempat latihan. Disana sudah ada Prima, sahabatku yang sepertinya sudah lama menungguku.
“Ya ampun Emil, dari mana aja lo baru nongol jam segini?” tanya Prima sambil menunjukan jam ditangannya.
“Sorry bro. Biasa ada urusan. Hehe.” jawabku santai.
“Ah, gaya lo.” ucap Prima.
Aku dan Prima sahabat sejak masih SD. Kami memilikki kecintaan yang sama pada dunia sepakbola. Hanya berbeda siapa yang menjadi idola. Prima sangat mengidolakan Boaz Salosa dan aku mengidolakan Bambang Pamungkas. Setiap ada pertandingan Timnas di Gelora Bung Karno, kami selalu berusaha menyempatkan untuk menonton. Dengan cara menabung uang jajan kami tentunya. Meski kami berasal dari keluarga yang memilikki ekonomi menengah keatas, kami selalu ingin berkorban sendiri demi Timnas. Seperti pada saat final Piala AFF. Kami menabung uang jajan dan mencoba menjual barang-barang milik kami yang masih bagus dan layak pakai. Ya hasilnya lumayan, kami bisa berangkat ke Jakarta.
“Kata Pak Hendra hari ini latihan terakhir. Lusa kan kita tanding sama SMAK Santa Maria. Lo udah tau kan?” tanya Prima.
“Iya. Gue turun nggak ya?” aku malah balik bertanya pada Prima.
“Lo yakin turun nggak? Kalo lo yakin, lo pasti turun.” jawab Prima menenangkanku. Tapi aku tak yakin. Selalu begitu. Setiap sekolahku bertanding, perasaan seperti ini selalu menggoyahkan keyakinanku.
Tak berapa lama Pak Hendra, pelatih sepakbola sekaligus guru olahraga sekolahku, muncul.
“Ayo, baris dulu. Ada sedikit pengumuman sebelum latihan siang ini.” perintah Pak Hendra pada kami. Kami langsung melaksanakan instruksi dari beliau.
“Hari ini latihan terakhir. Sebelum lusa kita tanding sama SMAK Santa Maria. Kalian sudah tau kan?” tanya Pak Hendra.
“Tau, Pak.” jawab semua anak-anak.
“Bapak ingin kalian serius dan semangat. Juara dari pertandingan kali ini akan ditandingkan dengan juara lain dari Jawa Barat. Dan akan dipilih satu untuk tingkat nasional. Dan berkesempatan bertemu dan latihan dengan Timnas Indonesia.” ucap Pak Hendra. Dan ketika Pak Hendra menyebutkan hadiahnya berupa kesempatan bertemu dan latihan dengan Timnas, aku langsung semangat. Kuabaikan keraguanku yang tadi sempat menggelitikku. Yang ada sekarang adalah rasa optimis dan keyakinan akan mimpiku yang akan menjadi kenyataan, bertemu dan latihan dengan Timnas khususnya dengan idolaku yaitu Bambang Pamungkas. Dan kurasa Prima pun merasakan hal yang sama. Ia akan bertemu secara langsung dengan Boaz Salosa idolanya. Ah, alangkah sempurnanya hidupku.
# # #
Kuhempaskan tubuh lelahku. Kutatap langit-langit kamarku. Terbayang ketika aku menjadi pencetak dua gol untuk sekolahku. Dan mengantarkan sekolahku sebagai juara pertama pertandingan sepakbola antar SMA seJawa Barat. Ayah, ibu dan kakakku bangga dengan prestasiku. Mereka bangga karna aku sudah mengharumkan nama sekolah. Dan akupun bangga dengan diriku. Ah, kapan itu akan terulang. Aku amat merindukannya.
“Emil.” suara itu mengagetkanku dan membuyarkan kenanganku diatas langit-langit kamarku.
“Eh, ibu. Tumben udah pulang, Bu?” tanyaku pada ibu.
“Abis latihan bola lagi?” tanya ibu. Ketus.
“Iya, Bu.” jawabku singkat.
“Emil, ibu kan pernah bilang sama kamu. Boleh ikut ekskul olahraga asal jangan sepakbola. Kan di sekolahmu ada ekskul basket, softball, renang. Kenapa kamu malah pilih ekskul sepakbola?” lagi-lagi ibu bertanya dengan nada ketus setiap kali ibu tahu aku masih bertahan di ekskul sepakbola pilihanku.
“Aku mau seperti idolaku itu, Bu.” jawabku sambil menunjuk poster Bambang Pamungkas yang terpampang di dinding kamarku.
“Ibu malu, Mil. Anak ibu kok jadi pemain sepakbola.” ucap ibu. Masih dengan nada ketusnya.
“Lho, ko ibu malu. Harusnya ibu bangga. Karna anak ibu masuk ekskul sepakbola. Soalnya seleksi untuk ekskul sepakbola itu susah, Bu.” ucapku.
“Apa? Ibu harus bangga? Emil, ibu akan sangat bangga kalo kamu jadi juara sains. Ya, minimal tingkat nasional. Bukan jadi pemain sepakbola seperti cita-cita kamu itu.” ucap ibu.
“What? Juara sains? Impossible.” ucapan ibu yang satu ini benar-benar membuatku kaget. Mana bisa aku jadi juara sains. Aku paling tidak suka dengan salah satu cabang pelajaran sains, yaitu kimia. Jadi, aku takkan mungkin jadi juara sains. Apalagi sampai tingkat nasional.
# # #
Hari yang kutunggu-tunggu akhirnya datang juga. Hari pertandingan sepakbola SMA Persada, sekolahku melawan SMAK Santan Maria. Hari ini hari Sabtu, jadi ayah, ibu, dan Mas Dirga kakakku tidak sibuk dengan kegiatan masing-masing yang selalu membuatku kesepian dirumah. Meski jam masih menunjukkan pukul 10.00 aku sudah bersiap. Pertandingan sore nanti akan membuktikan kemampuanku pada ayah, ibu dan kakakku yang selalu tidak mendukung hobiku yang satu ini. Ah, aku sudah tidak sabar. Kupatut diriku didepan cermin. Aku tampak gagah menggunakan seragam sepakbola sekolahku. Dan harapanku, suatu saat nanti aku akan mengenakan seragam merah-putih dan membela Indonesia di pentas dunia. Aku mencoba bergaya seperti Bambang Pamungkas diposter dinding kamarku. Gagahnya.
“De...” suara kakakku mengagetkanku.
“Apa? Masuk aja. Nggak dikunci kok.”
“Mau kemana? Tanding sepakbola?” tanya kakakku.
“Iya dong. BP junior nih.” jawabku bangga.
“Yakin turun?” pertanyaan kakakku kali ini agak membuatku pesimis. Tapi aku mencoba optimis. Karena kata Pak Hendra permainanku sangat baik. Jika ada kesempatan aku bisa masuk seleksi Timnas U-17. Semoga saja.
“Harus yakin.” jawabku tegas.
“Iya deh. Terserah kamu aja. Tapi kakak nggak jamin loh kamu turun.” lagi-lagi kakakku membuatku pesimis. Tapi aku tak peduli.
“Ah, nggak peduli. Makanya entar sore nonton ya. Aku buktiin sama ayah, ibu dan kakak kalo aku bisa bikin kalian bangga. Udah ah, aku mau berangkat nih. Takut telat. Ada kumpulan dulu disekolah. Dah.” akupun meninggalkan kakakku yang masih geleng-geleng kepala.
Jangan meremehkan aku, Kak. Aku yakin kalian akan bangga kalau aku bisa membawa sekolahku menjadi juara pertandingan sepakbola antar SMA seJawa Barat.
# # #
Kuparkir vespa ungu kesayanganku diantara motor-motor sport teman-temanku. Ya, meskipun dirumah ada motor yang lain, aku lebih menyukai vespa ungu kesayanganku. Dan aku cukup percaya diri mengendarai vespa ini. Meskipun aku hanya mengendarainya pada saat-saat tertentu.
Aku langsung berlari menuju ruang olahraga. Ternyata Prima sudah menungguku.
“Hai, Mil. Siap tempur kan?” tanya Prima dengan semangat.
“Siap dong.” jawabku tak kalah semangatnya dengan Prima. tapi ketika aku sedang asyik berbincang dengan Prima, muncul Galang, kapten tim sepakbola sekolahku yang sering membuatku mati gaya. Galang selalu meremehkan kemampuanku. Tapi kata Pak Hendra permainan dan gayaku saat bermain bola memang lebih baik jika dibandingkan dengan Galang.
“Emil, yakin turun?” pertanyaan Galang seperti itu yang selalu terkesan meremehkanku. Apalagi ditambah dengan senyum sinisnya.
“Lihat aja nanti.” aku selalu menjawab pertanyaan Galang dengan nada santai.
Tak berapa lama Pak Hendra datang dengan membawa daftar pemain yang turun pada pertandingan kali ini.
“Pak, posisi saya...” belum sempat pertanyaanku kuucapkan, Pak Hendra memberikan daftar itu. Kubaca berulang-ulang daftar itu. Tak ada namaku. Sekali lagi kubaca. Tetap tak ada namaku.
Aku terduduk lemas. Menerawang kemasa lalu. Bayangan di langit-langit kamarku, ketika aku menjadi pemain terbaik yang membawa sekolahku sebagai juara. Ah, ternyata hanyalah lukisan yang kuciptakan dengan tinta khayalan. Aku tak bisa bertanding sepakbola bukan karna aku tak mampu bermain seperti Bambang Pamungkas idolaku, tapi karna di seragam putih-abuku hanya tertulis satu nama, yaitu : EMILIA AYU MAHARANI .
Ciamis,nov09