Kamis, 04 Oktober 2012

“EMON, SAHABAT UNTUK SELAMANYA”


Seperti biasa, jam beker itu selalu berisik pada pukul 7. Pemiliknya seperti tak menghiraukan benar atau salah ia mengatur jarum jam pada beker itu.  Tak lama muncul sebuah kepala dengan rambut keriting dari balik selimut. Meraih beker yang ada di meja disampingnya. Menatapnya. Kemudian menaruhnya kembali di meja yang sama. Ia keluar dari persembunyiannya semalam. Melangkah menuju pintu dengan mata yang masih tertutup. Tak lama ia keluar dari sebuah ruangan yang lantainya basah. Bergegas mengganti busana yang ia kenakan. Lalu keluar dari ruangan yang ia sebut area pribadi. Dengan cepat ia melesat menuju sebuah halaman luas didepan deretan kamar kost putra itu. Menuju si cantik nan mempesona. Ya, yang amat ia cintai. Vespa ungu metalik warisan peninggalan sang kakek.
Lorong panjang itu harus ia lewati dengan setengah berlari. Menuju kelas paling pojok di lantai 2. Beruntung, beberapa langkah menuju pintu masuk seorang lelaki paruh baya lengkap dengan kacamata keluar dari kelas tersebut. Iapun bergegas masuk ke dalam kelas.
“ Mon, parah banget lu jam segini baru masuk. Pasti kesiangan deh bangunnya” ucap seorang gadis berkacamata pada Emon.
“ Bawel lu. Eh kok dosen keluar kelas, sih?”
“ Tau. Gak sms gue mau ngapain keluar kelas. Haha”
“ Huu..”
Gadis berjilbab yang duduk dua baris didepannya membuat Emon terdiam. Kulit pipinya yang putih bersih tambah mempesona dengan lesung pipi yang menambah cantik senyumnya. Subhanallah. Betapa indah ciptaan Tuhan yang kini ada didepan matanya. Ingin rasanya ia menyapa sang bidadari berjilbab biru itu.
“ Mon, ngapain lu liatin Nayla terus?” ucap Rista sambil menepuk punggungnya.
“ Hmm..nggak ko, hehe” ia gugup ketika Rista mengagetkannya.
###
Bidadari cantik bernama Nayla itu membuat Emon diam terpesona. Hasrat untuk memiliki sang bidadari cantik memang bukan beberapa menit yang lalu, tetapi sejak awal mereka bertemu sebagai mahasiswa di universitas tempat mereka belajar sekarang. Tetapi Sang Pemilik Waktu belum mengizinkan Emon untuk itu. Emon memang sangat sabar. Bahkan Rista sahabatnya sangat salut dengan kesabaran Emon. Awalnya Rista tidak percaya ada seorang lelaki yang sabar dan setia menunggu waktu yang tepat selama 4 tahun untuk mengungkapkan perasaannya pada seorang perempuan. Tapi setelah bersahabat lama dengan Emon, Rista yakin kesabaran dan kesetiaan itu bukan hanya kata-kata lebay dalam novel.
Siang itu perpustakaan cukup penuh oleh mahasiswa seangkatan Emon. Maklumlah lagi musim skripsi. Dipojok sebuah barisan rak buku, tampak sosok yang tak asing buat Emon. Cantik. Emon hanya bisa menatapnya dari jauh. Hanya Tuhan yang mampu mendengar jeritan hatinya.
“ Nayla andai saja waktu dapat ku kuasai sejak pertama kita bertemu, aku ingin menjadi imammu dalam menjalani sebuah ikatan suci sunnah Rasulullah. Membelai rambutmu ketika malam mulai larut. Menggenggam tanganmu ketika matahari mulai menyapa. Menegcup keningmu untuk menenangkan dukamu. Dan menjalani bahagia bersamamu.”
Degupan jantung Emon semakin menjadi ketika Nayla melewatinya dan tersenyum. Ah, andai saja bibirku bisa sedikit profesioanal aku seharusnya menyapa dengan menyebut namanya. Begitu penyesalan Emon yang lagi-lagi hanya ia dan Tuhan yang tau.
###
Dalam sujudnya Emon berdoa. Tak lupa ia kembali menyerukan isi hati yang hanya ia dan Tuhan yang tau. Tak lupa ia berdoa ampunan dari segala dosa, bertambah rizki, panjang umur, bertambah sabar dan ikhlas dan keinginannya untuk berkesempatan dapat berbalasan perasaan dengan sang bidadari cantik Nayla.
Bulir hangat yang menetes dari sudut matanya membuktikan betapa ia ingin Sang Penguasa Bumi mengabulkan doanya. Doa yang sama.
Tapi manusia hanya bisa memohon dan berencana. Tetap Sang Pemberi Kehidupan yang memutuskan segala yang terjadi pada kita. Hanya berdoa dan memohon yang dapat Emon lakukan. Dan hari ini, tahun ketujuh perasaan itu masih Emon simpan. Takkan pernah tersampaikan. Sang bidadari cantik telah dimiliki orang lain. Emon tak menyesal. Ia yakin sang bidadari cantik yang lain telah menunggunya.
###
Kecupan manis mendarat dikeningku.
“ Selamat pagi, cantik”
“ Selamat pagi juga, suamiku”
“ Aku yakin, Tuhan telah menakdirkanmu untuk menjadi sahabat sepanjang hidupku.”
“ Aku juga percaya, kisah dimasa lalu hanyalah sepenggal cerita hidup kita. Meskipun dulu aku sangat mendukungmu untuk mendapatkan Nayla.”
“ Sayang, sudahlah. Aku akan menjadi imammu sampai Tuhan menghentikan nafasku. Menjadi pelindungmu dan menjadi bahagiamu.”
Aku percaya, Gilang Kaisar Pribadi(orang yang akan menjadi pemimpin yang bercahaya) atau dulu aku panggil Emon, akan menjadi sahabat untuk selamanya. Dalam tangis atau tawa, dalam terang atau gelap, semoga dalam hidup dan mati.


12082012